Showing posts with label Automotive. Show all posts
Showing posts with label Automotive. Show all posts

Tuesday, June 15, 2010

Konsumen mobil harus mengubah attitude mulai sekarang!


Penyelamatan terhadap lingkungan hidup hendaknya jangan hanya menjadi jargon-jargon yang manis di bibir atau hanya terpatri pada atribut-atribut ruang publik. Kampanye penyelamatan lingkungan hidup lewat pemakaian produk ramah lingkungan harus diikuti langkah nyata masyarakat agar Bumi lebih lestari dan makhluk yang menghuninya lebih nyaman tinggal.


Seiring dengan pertumbuhan kebutuhan transportasi, kemajuan teknologi dan membengkaknya populasi, kebutuhan terhadap kendaraan bermotor juga meningkat. Hal tersebut berujung dengan meningkatnya konsumsi bahan bakar, emisi gas buang dan komponen-komponen turunan lainnya dari industri otomotif sehingga industri ini juga ikut berperan serta di dalam pencemaran lingkungan hidup. Sejumlah penghuni bumi telah mencanangkan kampanye penyelamatan karena memprihatinkan kondisi Bumi yang jika tidak segera di selamatkan, situasinya akan semakin kritis.

Mau tidak mau dan harus mau, manusia harus mengambil langkah dan kini produk-produk ramah lingkungan sedang menjadi trend setter untuk mencapai cita-cita di atas. Salah satu produk yang menjadi sasaran adalah produk kendaraan bermotor yang selama ini dituding juga ikut mencemarkan lingkungan hidup.

Pabrikan kendaraan bermotor sendiri sudah sejak jauh-jauh hari mencanangkan produk mobil ramah lingkungan atau di sebut sebagai mobil hijau; yakni kendaraan bermotor yang sejak proses pembuatan hingga hasil akhirnya bersahabat dengan lingkungan tidak seperti produk-produk pendahulunya. Dalam artian produk kendaraan bermotor yang irit dalam konsumsi bahan bakar, rendah emisi gas buang (CO2) dan mudah untuk didaur ulang dan bahkan telah dihasilkan sejumlah kendaraan bermotor bertenaga listrik yang diharapkan menjadi kendaraan masa depan.

Lahirnya mobil hijau
Sebetulnya konsep mobil ramah lingkungan sudah ada sejak lahirnya mobil berbahan bakar minyak. Tetapi karena mobil berbahan bakar minyak lebih murah ongkos produksinya, kemampuannya melebihi mobil listrik –mampu menempuh perjalanan lebih jauh dan kecepatannya lebih tinggi- pada akhirnya, mobil listrik mati secara efektif dalam beberapa dasawarsa. Mobil berbahan bakar minyak fosillah yang akhirnya populer.

Namun, isu tentang kendaraan bermotor ramah lingkungan atau disebut juga green motoring lahir kembali di akhir 1950-an di antaranya dengan munculnya mobil mini Vespa 400 yang merupakan satu-satunya mobil yang diproduksi oleh pabrikan sepeda motor. Vespa 400 diproduksi dari tahun 1956 sampai 1961 dengan volume penjualan lebih dari 28 ribu unit.
Vespa 400, sebagai cikal bakal mobil ramah lingkungan tahun 1950-an.

Tak lama kemudian muncul Messerschmitt KR200 yang dibuat antara tahun 1957 dan 1964 yang dilengkapi dengan mesin satu silinder 2 Tak. Beberapa mobil bermesin kecil juga populer di tahun 1960-an di antaranya Healey Sprite dan mobil Electrovan yang diperkenalkan oleh pabrikan General Motors tahun 1966.
Messerschmitt KR200 atau Kabinenroller (Cabin Scooter) adalah mobil balon tiga roda yang didesain engineer pesawat terbang Fritz Fend dan diproduksi di pabrik produsen pesawat terbang Jerman Messerschmitt dari tahun 1955 sampai 1964

Electrovan adalah mobil fuel cell hydrogen pertama di dunia. Meski fuel cell sudah ditemukan sejak awal 1800-an, General Motors menjadi pabrikan mobil di dunia yang menggunakan fuel cell untuk menggerakkan mobil.

Kampanye tentang pemakaian mobil ramah lingkungan semakin menguat ketika terjadi krisis minyak tahun 1973 yang mendorong munculnya ide bahan bakar alternatif. Mobil listrik kembali mencuri perhatian. Beberapa brand muncul dan dikenal selama tahun 1970-an di antaranya Electraction Tropicana (1977) dan Zagato Zele yang mengubah reputasi pabrikan karena memproduksi mobil ringan dan indah dengan desain persegi dan moncong agak tinggi. Tapi lagi-lagi karena kemampuannya terbatas dan mobil berbahan bakar minyak lebih maju pesat, mobil listrik gagal mencuri perhatian mainstream.
Electraction buatan mantan desainer Ford Roy Haynes membuat kagum pameran mobil di London, UK dan Chicago.

Pada tahun 1980-an, beragam usaha untuk mengembangkan mobil hijau mencapai titik puncak yang baru. Contohnya di Swiss, diselenggarakan balapan mobil bertenaga surya yang diselenggarakan setiap tahun dan diberi nama Tour de Sol. Balapan itu diselenggarakan dari tahun 1985 dan berakhir tahun 1995. Tahun 1991, BMW menciptakan mobil konsep bertenaga baterei yang diberi nama E1. Di akhir tahun yang sama, Citroen memproduksi mobil listrik diberi nama Citroen Citela yang memiliki kecepatan maksimal 115km/jam dan dianggap sebagai mobil masa depan, namun pengembangannya mandek karena tidak ada dukungan dari perusahaan-perusahaan listrik.
juara Tour de Sol 1995 dari Amerika Serikat

Sejak itu bermunculan mobil-mobil konsep masa depan yang sangat hijau di antaranya Fiat Downtown dan Peugeot 106 Electric. Pabrikan Amerika Serikat, General Motors, juga memperkenalkan mobil listrik pertamanya, EV1, dari tahun 1996 – 1999.
Peugeot 106 adalah mobil supermini buatan Peugeot dari tahun 1991 sampai 2003. Juga merupakan salah satu mobil listrik paling pertama yang laris di pasar

Mobil ramah lingkungan EV1 dari General Motors Kelas Electric subcompact car Body style 2-seat, 2-door coupé Layout FF layout Mesin 3-phase AC induction electric motor with IGBT power inverter

Jeroan GM EV1

Industri otomotif mulai semakin serius mengembangkan mobil-mobil masa depan yang ramah lingkungan ketika isu tentang global warming (pemanasan global) mengemuka dan industri otomotif adalah salah satu industri yang dituding sebagai pihak yang ikut menyumbang pencemaran lingkungan hidup. Industri otomotif pun mengambil sikap karena pelestarian lingkungan hidup adalah langkah urgent yang harus didukung oleh semua pihak, dan seluruh industri di muka bumi ini berkepentingan dengan kondisi Bumi yang lebih hijau.

Memasuki millennium yang baru, konsep mobil hijau telah meluas dengan tingkat ekspansi yang sangat tinggi. Mobil hijau tidak lagi divisikan sebagai kendaraan masa depan, tetapi sudah diubah arahnya sebagai mobil yang sesuai dengan kebutuhan masa kini. Hal ini berkat ekspansi mobil hybrid, yang secara efektif mempertipis celah antara mobil listrik dengan mobil konvensional. Dengan mengkombinasikan sistem penyimpanan energi rechargeable dengan tenaga bahan bakar, mobil jadi lebih ekonimis dan ramah terhadap lingkungan dibandingkan mobil berbahan bakar minyak fosil murni.

Model-model mobil hybrid yang populer di antaranya Toyota Camry yang pernah dinobatkan sebagai mobil passenger terlaris di Amerika dan Toyota Prius yang dinobatkan sebagai mobil hybrid pertama yang diproduksi secara massal dan tahun 2007 menjadi mobil hybrid terlaris di dunia. Konsep Prius bahkan diperkenalkan pada mobil-mobil yang berbodi lebih bongsor seperti Lexus RX400h.

Mobil-mobil bertenaga hydrogen pun muncul tahun 2006 lewat BMW Seri 7, sedangkan Ford memperkenalkan Airstream tahun 2007 dengan baterei lithium.
Diproduksi oleh Toyota, Prius dijual pertama kali di Jepang pada 1997. Diperkenalkan ke pasaran dunia tahun 2000 dan hampir 160.000 unit telah diproduksi untuk dipasarkan di Jepang, Eropa, dan Amerika Utara pada akhir 2003.

Political will dunia untuk membuat bumi lebih hijau
Dari sisi politik sendiri, sebanyak 140 negara di dunia telah meratifikasi Protokol Kyoto, yakni sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global di mana negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya. Indonesia adalah negara ke-124 yang meratifikasi Protokol Kyoto yang diresmikan pengesahannya melalui UU No 17 tahun 2004, tanggal 28 Juli 2004 tentang Ratifikasi Protokol Kyoto. Indonesia juga menjadi salah satu negara pendukung Copenhagen Accord yang merupakan hasil dari KTT ke-15 Perubahan Iklim dari United Nation for Climate Change Conference di Kopenhagen, Denmark di mana Indonesia menargetkan emisi gas rumah kaca 26 persen pada 2020 dengan berbagai program mitigasi.

Dari alinea di atas terlihat bahwa Indonesia ikut berkomitmen untuk mengurangi efek rumah kaca dan mengurangi polutan-polutan yang membahayakan lingkungan hidup dengan sejumlah langkah yang disepakati bersama oleh berbagai negara lainnya. Menurut sumber International Energy Agency (IEA), bahwa sumbangsih terbesar CO2, adalah dari dunia produksi energi gas bumi sebesar 42, 6 %, dari transportasi sebesar 24 %, industri manufaktur dan konstruksi sebesar 18,5 %, pusat perumahan dan perbelanjaan sebesar 8 % dan lain-lain sebesar 5 %. Jika hal ini terus dibiarkan tanpa langkah-langkah pencegahan yang ketat, kondisinya akan semakin mengkhawatirkan.
Buatlah bumi lebih hijau dan lestari untuk generasi penerus

Koordinator Forum Keselamatan Transportasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Heru Sutomo seperti dikutip oleh detik.com mengatakan bahwa populasi kendaraan bermotor di Indonesia tahun 2009 diperkirakan naik menjadi 56 juta unit, dari 50 juta unit tahun 2008. Sedangkan Ririn Sefsani dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Majalah Mobilmotor akhir 2009 mengatakan bahwa pertumbuhan kendaraan di jalan-jalan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi naik menjadi 9,9 juta perjalanan/jam/hari, tahun 2020 diperkirakan naik menjadi 13 juta perjalanan/jam/hari dan jika hal tersebut tidak dikendalikan, bisa dibayangkan bagaimana pencemaran udara di Jabodetabek pada khususnya.

Mobil hijau untuk Indonesia

Jika mobil hijau untuk ukuran Indonesia adalah mobil listrik, pasar akan sangat kesulitan menerimanya. Di Eropa, dengan sejumlah regulasi yang mengatur, teknologi mobil lebih maju ketimbang Indonesia. Jangan jauh-jauh ke Eropa, Negara Singapura telah sejak lama memberlakukan pelarangan mobil berusia di atas 5 tahun berkeliaran di jalan-jalan di Negara kecil itu.

Seperti ditulis www.vivanews.com, di Inggris, pemerintah negara kerajaan itu membebaskan pajak kepada warganya yang memakai mobil dengan gas buang karbondioksida (Co2) lebih kecil dari 130gr/km. Pajak kendaraan di negara itu dimulai dari yang terendah 110 pound (sekitar Rp 1,5 juta) untuk gas buang 131 – 140 gr/km sampai yang tertinggi 950 pound (Rp 13 juta) untuk kendaraan yang emisinya lebih besar dari 255 gr/km.

Manager Marketing Communication Toyota Astra Motor (TAM) Achmad Rizal mengatakan bahwa kondisi di Indonesia memang tak bisa disamakan dengan dengan kondisi di Eropa atau Singapura karena banyak faktor pembeda. Tapi, katanya, kebutuhan terhadap kendaraan bermotor yang ramah lingkungan untuk saat ini adalah kondisi yang sangat urgent karena kondisi Bumi membutuhkannya. Menurutnya, kebutuhan manusia akan kualitas lingkungan hidup yang baik telah mendorong tumbuhnya kesadaran akan mobil hijau dan arus kesadaran itu tak akan bisa dibendung.
Achmad Rizal, manager marketing communication PT Toyota Astra Motor, ATPM Toyota di Indonesia (Foto: www.asco.co.id)

Menurutnya, seluruh mobil-mobil Toyota yang telah memakai mesin EFI dan VVTi sudah memenuhi persyaratan sebagai mobil ramah lingkungan mulai dari Toyota Avanza, Toyota Kijang Innova, Altis dan lain-lain. Bahkan, katanya, komitmen Toyota itu terlihat dengan memproduksi mobil ramah lingkungan secara massal, yaitu Toyota Prius.

Ia menambahkan, tujuan akhir dari teknologi mobil hijau adalah mobil dengan zero emission dan dunia pada saat ini sedang mengarah ke sana melalui sejumlah tahapan. “Pihak pabrikan sebetulnya siap jika memang diminta memproduksi mobil zero emission untuk pasar Indonesia, tetapi untuk mewujudkan hal tersebut sehingga mobil diterima oleh pasar tentunya harus didukung oleh fasilitas penunjangnya. Nah yang ini agak sulitnya.”

Sebagai pelaku industri otomotif, Rizal melihat bahwa kesadaran konsumen mobil di Indonesia terhadap produk kendaraan yang ramah lingkungan memang masih rendah. “Sebetulnya, untuk menuju tahap kesadaran ‘hijau’ menurut saya harus diawali dari attitude masyarakat yang sadar lingkungan. Tapi di masyarakat kita hal itu belum tertanam mendalam. Misalnya dari hal yang kecil, buang sampah masih sembarangan dan cara mengemudi di jalan yang tidak masuk kategori green driving. Tingkat kesadarannya masih rendah.”

Tapi mungkin cara berpikir masyarakat Indonesia tidak harus disalahkan juga. Mobil yang ramah lingkungan selalu identik dengan harga yang mahal, biaya perawatan yang tinggi dan akhirnya purna jual yang tidak sesuai harapan alias jatuh. Apalagi banyak kalangan yang menilai bahwa global warming adalah akal-akalan negara-negara maju untuk mengelabui negara berkembang agar mau mengikuti kehendaknya untuk mencaplok kepentingan ekonomi negara berkembang/miskin. Akhirnya negara berkembang/miskin harus menanggung dampak ekonomis yang ditimbulkan negara maju. Masyarakat menilai toh munculnya global warming juga disebabkan perilaku industri negara-negara maju, tapi yang menanggung akibatnya negara berkembang/miskin.

Menurut saya, jika masyarakat Indonesia berpikir mobil ramah lingkungan lebih mahal memang tidak salah, fakta berbicara seperti itu. Nah, untuk mempromosikan pemakaian mobil ramah lingkungan, pemerintah harus memberikan dukungan keringanan pajak kepada mobil-mobil yang ramah lingkungan, seperti yang misalnya yang diberlakukan oleh pemerintah Inggris. Atau mobil yang ramah lingkungan tidak termasuk dalam pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) sehingga mendorong masyarakat untuk menyerbu membeli mobil-mobil yang masuk di dalam kategori tersebut. Nah Tinggal di masukkan saja kategori-kategori mobil apa saja yang masuk mobil ramah lingkungan.
(Foto: antaranews.com)

Pemerintah pada saat ini juga harus mendesak para pemilik mobil untuk tidak lagi memakai bahan bakar Premium yang notabene memang disubsidi oleh pemerintah untuk angkutan umum. Mereka diharuskan memakai bahan bakar dengan kadar RON 92 alias mengkonsumsi Pertamax untuk mengejar kualitas udara yang lebih baik khususnya di daerah perkotaan. Dan pemerintah harus mengkampanyekan lewat cara yang lebih tegas untuk menegakkan disiplin berlalu-lintas yang dibarengi dengan penataan infrastruktur jalanan dan juga menyediakan transportasi umum secara massal, aman, nyaman dan murah.
Angkutan umum di Jakarta kabarnya tak pernah mengalami peremajaan selama 10 tahun terakhir. Sebetulnya kalau ada keinginan, semua bisa cepat bisa diatasi.

Busway ikut sedikit mengurai kemacetan di Jakarta, tapi busway saja belum cukup. Proyek monorail sampai sekarang belum terwujud, pemerintah daerah harus memiliki tekad dan terobosan menyediakan angkutan umum yang aman, nyaman, terjangkau dan cepat.

Sekarang ini, masyarakat harus memiliki ‘cara berpikir hijau’ di dalam dunia otomotif. Kondisi dunia yang terus berubah menuntut penghuninya juga untuk berubah. Jika masyarakat pemakai kendaraan bermotor tidak mendukung kampanye penyelamatan bumi, kelangsungan hidup umat manusia dan makhluk lainnya terancam dan berarti kita mempercepat kematian.

Jadi menurut saya, mobil hijau di Indonesia sekarang ini bukanlah mobil zero emission atau mobil listrik. Melainkan mobil yang sangat hemat konsumsi bahan bakarnya, emisi karbondioksidanya rendah dan memakai banyak komponen yang mudah untuk didaur ulang. Kendaraan bermotor tenaga listrik adalah salah satu tujuan tertinggi mobil ramah ramah lingkungan, tapi mulai sekarang masyarakat hendaklah membeli kendaraan bermotor yang ramah lingkungan sesuai kriteria tadi. Bumi sekarang ini ada di tangan Anda, kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi?
(Eka Zulkarnain, wartawan F1 Racing)

Tuesday, June 1, 2010

Pembatasan BBM bersubsidi sepeda motor; prahara baru bagi rakyat kecil

(Foto: http://media.vivanews.com/images/2009/06/19/72498_sepeda_motor.jpg)

Rasa keadilan masyarakat Indonesia dalamlebih dari dari seminggu terakhir kembali terusik oleh rencana pemerintah membatasi pemakaian bahan bakar bersubsidi untuk sepeda motor. Rencana yang dilontarkan sekitar tanggal 25 Mei lalu itu mengusik rasa keadilan masyarakat yang telah terbebani oleh tumpukan problematika hidup, terutama problema yang bersangkutan dengan urusan perut. Sebuah rasa keadilan untuk mendapatkan penghidupan yang layak dan mendapatkan pelayanan yang semestinya diberikan oleh Negara kepada Rakyatnya. Sebuah rasa keadilan di mana semestinya kepentingan rakyat banyak dilindungi.

Masyarakat – dalam hal ini menengah ke bawah- sulit menerima dengan akal sehat bahwa alat tumpuan mereka yang di dalam faktanya bukan barang mewah untuk mencari nafkah akan menjadi korban kebijakan pemerintah tanpa landasan berpikir yang jernih dan jelas. Bagaimana mungkin sepeda motor yang kapasitas enginenya jauh lebih kecil dari kendaraan roda empat, harus mendapatkan perlakuan yang sama dengan pemilik mobil? Bagaimana mungkin mereka harus menjadi korban kebijakan pemerintah karena sistem transportasi umum dan infrastruktur jalan yang tidak memadai?

Pemerintah menyanjung-nyanjung dua tujuan penghapusan BBM bersubsidi untuk sepeda motor; 1) Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan 2) demi melestarikan lingkungan hidup. Meningkatkan kesejahteraan rakyat memang telah menjadi kewajiban Negara yang telah dicantumkan dan dicamkan di dalam konstitusi. Dan rakyat berhak untuk mendapatkan kehidupan yang layak dari Negara. Melestarikan lingkungan hidup juga merupakan kebijakan yang sah dari pemerintah dan perlu dilaksanakan demi kelangsungan pembangunan negeri ini pada khususnya dan kelangsungan bumi pada umumnya. Tapi yang menjadi pertanyaan jika kedua tujuan itu dicanangkan dengan cara ‘menyeret’ rakyat ke jurang penderitaan yang lebih dalam, lantas untuk siapa kedua tujuan itu dicanangkan?

Di Indonesia pengguna sepeda motor pada umumnya adalah masyarakat kelas menengah ke bawah sebagai moda transportasi di dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Tidak hanya menjadi alat transportasi yang mengantarkan pengguna dari rumah ke kantor, pabrik, tempat sekolah dan tempat-tempat tujuan lainnya, melainkan juga sebagai sarana menunjang kegiatan usaha yang cukup aman, murah, hemat, fleksibel, cepat dan memiliki daya tempuh jarak yang cukup tinggi. Dalam artian, motor telah menjadi moda transportasi andalan di dalam kegiatan berusaha.
(http://www.koran-jakarta.com/gambarberita/2009/arvinozulkaGambarBeritaKoranJakarta)

Sepeda motor dipakai oleh berbagai kalangan profesi masyarakat menengah dan bawah. Ia dipakai oleh pekerja kantoran, satpam, karyawan pusat perbelanjaan, office boy, pegawai negeri sipil, polisi, anggota TNI sampai ajudan jenderal. Dan pada umumnya sepeda motor yang dipakai di Indonesia adalah jenis bebek! Seorang karyawan yang yang pergi ke kantor di daerah Sudirman, Jakarta Pusat dari rumah di Citayam, Depok, Jawa Barat dengan sepeda motor bebek 110cc berbahan bakar Premium yang harganya Rp 4.500 per liter harus mengeluarkan kocek Rp 110ribu per bulan untuk 22 hari kerja, dengan asumsi konsumsi Premiumnya Rp 10ribu untuk dua hari.

Sedangkan jika ia dipaksa memakai bahan bakar Pertamax yang harganya Rp 6.950 per liter, jumlah pengeluaran yang ia keluarkan bertambah tinggi Rp 10ribu Pertamax hanya untuk 1 hari saja, atau mengalami peningkatan menjadi Rp 220 ribu per bulan untuk 22 hari kerja. Berarti pengeluarannya naik 100 persen! Waktu tempuhnya rata-rata 1,5jam. Namun, teori konsumsi bahan bakar ini bisa menjadi kurang atau lebih tergantung dari cara pemakaian dan kondisi lalu-lintas yang dilewati oleh pengendara motor tentunya.

Jika sang karyawan naik angkutan umum, ia mengeluarkan biaya transportasi Rp 14ribu per hari dan harus ditebus dengan waktu tempuh yang lebih gila lagi, 2,5- 3 jam karena harus melewati sejumlah simpul-simpul kemacetan. Jika naik kereta api, sang karyawan harus mengeluarkan kocek Rp 24ribu per hari PP dengan kereta ekspress Pakuan, dengan KA ekonomi AC Rp 17ribu PP per hari dan KA ekonomi biasa Rp 9ribu PP. Kalikan saja dengan 22 hari kerja! (2 http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/02/17/3693919p.jpg)

Jika karyawan menggunakan moda transportasi Busway dari Shelter Ragunan menuju Sudirman, mesti mengeluarkan kocek Rp 7.000 per hari dengan waktu tempuh 1 jam! Dengan asumsi sepeda motor dititipkan di Terminal Busway Ragunan, berarti ada juga konsumsi bahan bakar motor yang dihitung dan uang parkir penitipan motor. Tapi waktu tempuh dengan Busway bisa lebih gila lagi pada saat jam pulang kantor, bisa sampai 2 jam sampai Ragunan karena jalur Busway dimasuki pula oleh kendaraan pribadi (waktu tempuh ini sudah termasuk menunggu Busway di shelter Sudirman dan Terminal Dukuh Atas).

Bagi kalangan kelas menengah yang memakai sepeda motor, kenaikan biaya transportasi sebesar 100 persen mungkin tidak terlalu memberatkan, namun lain halnya bagi masyarakat kecil pemakai sepeda motor. Mereka harus mengeluarkan kocek tambahan 100 persen untuk biaya transportasi padahal mereka juga dibelit oleh harga barang yang membumbung tinggi. Dapat dipastikan kenaikan cost juga akan menyebabkan kenaikan harga barang, imbasnya malah menular kemana-mana. Padahal tanpa pemberlakuan pembatasan pemakaian BBM bersubsidi pun, kalangan pemakai sepeda motor sudah memiliki mekanisme tersendiri dalam mengkonsumsi BBM Premium dan Pertamax.

Masyarakat sendiri menyadari bahwa harga energi akan terus meningkat dan akan sulit turun karena mau tidak mau hukum supply and demand berlaku. Apalagi cadangan sumber daya energi dari hari ke hari terus menipis, sehingga muncul ide-ide tentang energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Tapi apakah membatasi pemakaian BBM bersubsidi (Premium) untuk sepeda motor yang notabene bukan barang mewah sekarang ini tepat? (http://aziz.blogdetik.com/files/2008/08/macet.jpg)

Tindakan pemerintah membatasi pemakaian BBM bersubsidi kepada sepeda motor menurut saya adalah tindakan kekanak-kanakkan. Pemerintah hanya mencari solusi gampangnya saja untuk menyelesaikan permasalahan bahan bakar di negeri ini dengan alasan bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Jika pemerintah membatasi pemakaian BBM bersubsidi kepada sepeda motor yang notabene dipakai oleh masyarakat kecil, lantas kesejahteraan rakyat mana yang mau ditingkatkan dan dibela? Padahal, masyarakat kecil akhir-akhir ini sudah terbebani problema kebutuhan hidup dengan segala kenaikan harga barang kebutuhan. Padahal pemerintah juga tahu bahwa peningkatan pendapatan rakyatnya tidak sebanding lurus dengan membumbungnya harga kebutuhan. Lantas kepentingan siapa yang dibela?

Lantas apakah karena ketidakmampuan pemerintah menyediakan moda transportasi umum yang cepat, murah, nyaman dan aman dan ketidakmampuan pemerintah membenahi infrastruktur jalanan, rakyat kecil kembali harus menjadi korban? Bagaimana masyarakat bisa mendapatkan rasa keadilan jika hak hidupnya sebagai warga negara tidak sebanding lurus dengan pelayanan yang diberikan oleh Negara [pemerintah]? Jika untuk membayar selembar Akta Kelahiran anaknya yang menurut pemerintah hanya ditebus dengan uang Rp 50.000 ternyata harus membayar hampir Rp 400.000? Atau jika ternyata tetangganya yang PNS rendahan di sebuah departemen, ternyata gonta-ganti mobil padahal pendapatannya lebih baik sang tetangga? Bahkan untuk membuat KTP pun mereka harus mengeluarkan kocek lebih tinggi dari harga normal atau mereka merasakan langsung carut marutnya birokrasi yang harus ditebus dengan energi fisik dan finansial yang tidak efektif oleh warganya? (http://ayahaan.files.wordpress.com/2009/09/macet-vivanews.jpg)

Justru pemerintah sekarang ini tidak perlu lagi menghimpit tubuh rakyat kecil yang sudah gepeng dengan segala beban hidup. Pemerintah malah seharusnya mengurangi beban hidup, misalnya dengan menyediakan kebutuhan pokok dengan harga yang sangat terjangkau alias murah. Sudah menjadi tugas Negara (pemerintah) untuk melindungi kepentingan rakyatnya untuk hidup di negeri ini.

Sebaiknya energi pemerintah jangan dialihkan mengurusi pembatasan pemakaian BBM bersubsidi untuk sepeda motor. Lebih baik tangani dulu dengan baik pembatasan pemakaian BBM bersubsidi (premium) di kalangan pemilik kendaraan roda empat, membenahi infrastruktur jalan, menyediakan transportasi umum yang nyaman, murah dan aman dan efiensi alokasi pendapatan negara jangan sampai bocor ke mana-mana. Lebih baik pemerintah juga mengefisiensi alokasi dana dari hasil penghapusan-penghapusan subsidi BBM sebelumnya yang katanya dialokasikan ke bidang kesehatan, pendidikan dan lain-lain.Toh sudah menjadi rahasia umum bukan pelaksanaan alokasi dana ternyata tidak berjalan efektif.

Kalau pun pemerintah tetap ngotot ingin memberlakukan pembatasan pemakaian bahan bakar bersubsidi kepada sepeda motor, rakyat kecil yang hidupnya sudah terhimpit akan semakin menderita. Mekanisme seperti apa yang bakal dibuat oleh pemerintah? Toh, harga BBM tidak bersubsidi (Pertamax) selama ini fluktuatif dan terus meningkat –dan apakah pemerintah akan menggunakan mekanisme patok harga seperti BBM bersubsidi seperti sekarang? Toh penghapusan pemakaian BBM bersubsidi untuk mobil pun tidak berjalan efektif, banyak kendaraan pribadi bertahun muda yang masih memakai premium. Toh, infrastruktur jalan juga berantakan, bukan rahasia umum lagi jalan-jalan di ibukota Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia berlubang dan tak jelas markanya. Alih-alih bukan kesejahteraan yang diperoleh, malah akan menuai penderitaan dan pemberontakan.

Saya sendiri merasa yakin bahwa jika pemerintah bisa menyediakan transportasi umum yang aman, nyaman dan murah masyarakat dan masyarakat mendapatkan keadilan dalam mendapatkan pelayanan dari Negara dan mendapatkan peningkatan taraf hidup (tidak seperti sekarang), masyarakat akan dengan sendirinya tunduk dengan keputusan pemerintah. (Eka Zulkarnain, wartawan)

Thursday, May 13, 2010

FORMULA 1 DARI MASA KE MASA (vol. 1)

(tulisan ini pernah dimuat pada suplemen F1 Racing Indonesia tahun 2004 dan dikopi langsung dari suplemen tersebut)

Balapan mobil pertama tahun 1894 antara Paris - Rouen. Michaud dengan mobil Peugeot.

Sebenarnya, siapa yang pertama membuat mobil masih jadi perdebatan. Namun pada umumnya Orang menganggap Karl Benz dan Gottlieb Daimler sebagai pencipta pertama. Antara 1885-1886 kedua orang Jerman itu membangun sebuah mobil berbahan bakar bensin. Ketika itu mobil jadi Tunggangan orang-orang yang sangat kaya dan menunjukan martabat sebuah keluarga. Tak heran jika kemudian timbul persaingan di antara mereka, untuk menunjukan mobil siapa yang paling hebat. Lalu munculah balapan -lebih tepat disebut adu ketahanan- mobil pertama antara kota Paris dan Rouen pada 1894. Balapan itu dimenangkan mobil De Dion milik Georges Bouton.
Gottlieb Daimler (kiri) dan Daimler Benz (kanan)

Balapan sesungguhnya baru muncul setahun kemudian, mengambil rute Paris-Bordeaux- Paris di bulan Juni 1895. Dua puluh dua pembalap dengan berbagai jenis mobil, ada yang berbahan bakar bensin, mesin uap atau tenaga listrik, turut serta dalam ajang yang menempuh jarak 1171,2 km itu. Akhirnya, dengan kecepatan 24 km/j, mobil Emile Levassor yang berbahan bakar bensin berhasil masuk finis pertama kali dengan catatan waktu 48 jam 48 menit. Dari enam mobil yang memakai tenaga uap, hanya satu yang masuk finis. Sementara mobil bertenaga listrik malah tak ada yang sukses.

Balapan itu terbilang memperoleh sukses luarbiasa dan balapan antar kota jadi trend baru. Karena saat itu Prancis jadi pusat perkembangan industri mobil, start lomba selalu dimulai dari Paris. Sayang, pada pertengahan 1903 pemerintah negeri Napoleon tersebut melarang kegiatan itu setelah di event Paris-Madrid, terjadi kecelakaan yang menewaskan banyak penonton. Pemerintah Prancis menyetop lomba di Bordeaux dan memulangkan mobil-mobil yang berlomba dengan kereta api.

1906 GRAND PRIX PERTAMA
Antara 1900 hingga 1905 balap tahunan The Gordon Bennet Cup adalah balapan yang paling bergengsi. Balapan yang disponsori tokoh Koran Amerika terkemuka itu dibatasi syarat ketat; tim yang berlaga harus beranggotakan orang dari berbagai bangsa dan memiliki paling banyak tiga mobil. Aturan itu membuat Prancis kecewa. Soalnya saat itu industri mobil Prancis sedang b o o m i n g. A k h i rnya negara itu menolak ikut serta pada 1906. Sebagai gantinya, muncul balap France Grand Prix di sebuah sirkuit dekat Le Mans yang diselenggarakan oleh Automobile Club de France. Setelah berputar sebanyak 12 lap dengan jarak tempuh 100,8 km akhirnya Ferenzc Szisz asal Hungaria yang mengendarai mobil Renault 1300cc memenangkan GP Prancis pertama itu.
Suasana menjelang start di balapan Gordon Bennet Cup 1905

1906-1914 ERA PERKEMBANGAN
Motorsport berkembang pesat beberapa tahun sebelum Perang Dunia I. Banyak pabrik yang melakukan investasi besar-besaran. Mobil balap two-seater mulai digantikan mobil-mobil balap berbangku tunggal. Pada 1907, pembukaan sirkuit Brooklands di Inggris menandai perkembangan pesat hobi adu cepat itu. Dan dua tahun kemudian demam balap mulai mewabah ke Amerika Dengan dibukanya t rek legendaris Indianapolis. Meski sudah berimigrasi ke berbagai negeri, nama Grand Prix yang menandai balapan di Prancis tetap digunakan di berbagai negara. Sejak itu beberapa penyelenggara balapan mulai membakukan peraturan yang ada. Dan muncullah nama 'Fo rmula' sebagai nama peraturan itu.

Awalnya pembatasan mobil disetujui hanya pada beratnya saja, namun terjadi perubahan besar pada 1914. Saat itu kapasitas mesin mobil dibatasi sampai 450 cc saja, padahal sebelumnya sudah mencapai 1800cc. Meski demikian, peraturan itu malah mendorong lahirnya mobil-mobil yang lebih kecil. Sayang perkembangannya t e rhambat akibat pecahnya Perang Dunia I.
Suasana start balapan di Sirkuit Brooklands, Inggris 1907.

1919-1933 MASA-MASA SULIT
Setelah PD I usai, perkembangan balapan jadi tertatih. Pabrikan mobil yang besar tak mampu lagi
mengikuti balapan. Justru, pabrikan mobil kecil seperti Bugatti, Alfa Romeo, dan Maserati yang
membuat balapan GP tetap berputar. Melihat kondisi demikian, Amerika yang tadinya mengikuti kompetisi balap gaya Eropa, membuat balapan sendiri. Muncullah balapan Indianapolis 500, yang kemudian menjadi tonggak balapan di trek oval. Pada 1920-an, Eropa tak mau kalah. Berdirilah trek balapan seperti Monaco, Monza, Spa dan Nurburgring yang masih digunakan hingga sekarang dengan berbagai renovasi dan modifikasi.
Balapan pada masa-masa sulit (1913-1933) di Monaco

1934-1939 THE SILVER ARROWS
Pada 1934, pihak penyelenggara menyederhanakan peraturan balapan. Tak ada pembatasan kapasitas mesin, hanya saja berat mobil tak melebihi 750 Kg. Aturan itu dianggap dapat mendoronglahirnya mobil yang lebih kecil dan lebih lambat. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Orang terpacu menciptakan mobil dengan teknologi lebih tinggi. Pada era ini pula balapan mulai dilirik Hitler sebagai alat propaganda yang jitu. Pemimpin besar Nazi itu kemudian membiayai Mercedes - Benz dan Auto Union (gabungan mobil Horc h, Audi, DKW, dan Wanderer) untuk membuat mobil baru berteknologi tinggi.

Keinginan Hitler kesampaian. Tidak hanya merajai balapan, mobil-mobil buatan Jerman itu mampu menarik perhatian. Bodi mobil yang dibuat dari aluminium dibiarkan tanpa cat. Tak ada lagi warna putih yang biasa menyelubungi mobil-mobil buatan Jerman. Nah, warna keperakan dari aluminium dan kecepatan Mercedes yang tak tertandingi itulah yang memunculkan julukan The Silver Arrows.
The Silver Arrows, proyek ambisius penguasa Jerman AAdolf Hitler dan warna silver adalah warna bodi mobil dari alumunium yang dibiarkan tak di cat

1945-1949 KELAHIRAN FORMULA 1
Sekali lagi, perkembangan olahraga bermotor terhambat pecahnya perang dunia. Namun demikian, pada September 1945 sebuah balapan digelar di Paris. Usai Perang Dunia II, dengan kalahnya Jerman, The Silver Arrows keluar dari ajang kompetisi. Dan untuk pertama kalinya para kompetitor amatir dapat mengandalkan kekuatan mesin mobil mereka sendiri. Sebab, ketika masih
ada Mercedes, cuma Alfa Romeo yang bisa menandinginya. Pada 1947, Federation Internationale de l'Automobile (FIA), sebuah badan baru yang membawahi olahraga bermotor, mengeluarkan peraturan internasional. Dan untuk pertama kalinya nama Formula 1 digunakan.

1950-1960 WORLD CHAMPIONSHIP
Kejuaraan Dunia motorsport pertama dimulai dengan diadakannya GP Eropa di trek lapangan udara Silverstone, Inggris. Kemudian disusul dengan balapan di Monaco, Swiss, Belgia, Prancis dan Italia.

Pada masa itu Alfa Romeo mendominasi balapan. Giuseppe Farina mampu mengungguli rekan satu timnya di Alfa Romeo, Juan Manuel Fangio dan Luigi Fagioli, untuk meraih gelar juara dunia.
Salah satu mobil F1 pertama yang dipacu tahun 1950, Alfa Romeo

Tahun berikutnya, Juan Manuel Fangio yang mengalahkan Farina sekaligus meraih titel juara
dunia. Sayang, meski mampu mendominasi balapan, Alfa Romeo mengundurkan diri dari balapan pada tahun itu. Meski demikian, keperkasaan pembalap Italia tetap berlanjut dengan munculnya tim Ferrari dan Maserati mendominasi ajang balap pada 1952-1953.
Nino Farina tercatat sebagai pembalap F1 pertama yang menjuarai grand prix Kejuaraan Dunia F1 pertama di Silverstone 13 Mei 1950.

Di tahun 1954 Mercedes kembali karena. Dalam tempo singkat, generasi baru The Silver A rrows yang disopiri Fangio itu berhasil merajai balapan pada 1954-1955. Namun sesudah itu M e rcedes kembali mengundurkan diri. Fangio akhirnya balik lagi ke Italia dan berpacu bersama tim Ferrari. Di tim itu Fangio sempat menyumbangkan gelar juara dunia pada 1956.
Juan Manuel Fangio, pembalap asal Argentina yang dijuluki El Maestro (The Master) yang menguasai satu dasawarsa pertama F1 dan juara dunia F1 lima kali.


Bersambung…

Wednesday, May 12, 2010

TOYOTA BORONG 8 PENGHARGAAN OTOMOTIF AWARD 2010



Jakarta, 12 Mei 2010. Toyota menyabet delapan penghargaan dari Otomotif Award 2010 pada 8 Mei lalu dan penghargaan diterima langsung oleh Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM) bersamaan dengan gelaran Otobursa 2010 di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat.

Produk-produk Toyota yang mendapat penghargaan terbaik di kelasnya tersebut adalah Toyota Vios sebagai terbaik di kelas Small Sedan, Toyota Camry sebagai The Best Full Sedan dan Toyota Kijang Innova sebagai The Best Mid MPV dan The Best MPV Diesel. PT Toyota-Astra Motor –sebagai ATPM Toyota di Indonesia- di dalam siaran persnya juga mengatakan bahwa Toyota juga menerima 3 buah special award masing-masing diberikan kepada Toyota Hilux Dcab sebagai Best Budget D-Cab, Toyota Prius sebagai Eco Friendly Car dan Auto 2000 sebagai Best Body Repair dan Repaint Service.



Joko Trisanyoto dalam penyerahan penghargaan mengatakan, “Merupakan sebuah kebanggaan menerima penghargaan ini, terima kasih kepada semua pihak baik media dan masyarakat atas kepercayaan nya selama ini kepada produk dan layanan Toyota. Semua masukan ini akan kami jadikan pijakan untuk selalu memberikan yang terbaik.”

Sunday, May 9, 2010

Honda Freed raih penghargaan The Best Automotive Debut Model of The Year 2010


Jakarta, 10 Mei 2010. Honda Freed pada awal Mei 2010 telah meraih penghargaan “The Best Automotive Debut Model of the Year 2010” dari ajang 2010 Frost & Sullivan Indonesia Automotive & Transportation Award yang diadakan oleh Frost & Sullivan. Honda Freed meraih penghargaan tersebut karena dianggap memiliki prestasi terbaik di antara model-model mobil baru di Indonesia dalam hal pencapaian penjualan, kualitas serta inovasi pemasaran.

PT Honda Prospect Motor (HPM) –sebagai agen tunggal pemegang merek (ATPM) Honda di Indonesia- dalam siaran persnya mengatakan bahwa penilaian yang diberikan Frost & Sullivan ini didasarkan pada komponen seperti pertumbuhan revenue, pangsa pasar dan pertumbuhannya, inovasi pasar, strategi marketing dan pertumbuhan bisnis. Yukihiro Aoshima, President Director PT Honda Prospect Motor mengatakan, “Honda Freed telah menerima penghargaan di Jepang sebagai Best Value Car, sementara di Indonesia juga telah menerima beberapa penghargaan dari berbagai majalah otomotif. Sebagai negara pertama di luar Jepang yang meluncurkan Honda Freed, kami harap berbagai penghargaan yang diterima model ini akan menyebarkan citra yang baik ke negara-negara lainnya.”

Marketing & Aftersales Service Director PT HPM Jonfis Fandy mengatakan, “Kami berterima kasih atas penghargaan ini. Saat diluncurkan, Honda Freed memang menawarkan konsep baru tentang sebuah MPV untuk keluarga generasi baru (New Generation Family) di Indonesia. Penghargaan ini menunjukkan bahwa apa yang ditawarkan Honda Freed telah sejalan dengan trend mobil keluarga saat ini.”

Honda Freed mulai diluncurkan di Indonesia bulan Juni 2009 dan hanya dalam kurun waktu 9 bulan, Honda Freed terjual 13.231 unit sekaligus menjadikannya sebagai salah satu dari 10 model dengan penjualan tertinggi di Indonesia. Selain penghargaan dari Frost & Sullivan, Honda Freed juga telah meraih 3 penghargaan dari berbagai majalah otomotif terkemuka di Indonesia.

Frost & Sullivan adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang konsultasi dan analisis selama 45 tahun dan memiliki 40 kantor yang tersebar di 6 benua.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...